Kei Besar – Soinnews.com – Mentari yang bersinar itu sudah berada di atas gunung, jam di handphone menujukan pukul 16:00 WIT, dikala rombongan itu mulai bergegas untuk keluar dari desa Weer ohoinam Kecamatan Kei Besar Utara Barat menuju desa Hollat Kecamatn Kei Besar Utara Timur.
Saya dan teman saya sebut saja namanya Dedy Rumangun, mewakili beberapa teman-teman untuk ikut dalam rombongan itu, ketika sang pempimpin rombongan mengatakan “ kita kembai Ke Desa Hollat” saya pun mencari kendaraan roda empat yang ada untuk ditumpangi.
Hari itu tepat tanggal 16 bulan September tahun 2024, kami memulai perjalanan menuju desa Hollat, kecamatan Kei Besar Utara Timur, kabupaten Maluku Tenggara.
Perjalanan yang penuh dengan tantangan itu harus kami lalui, dimulai dari Desa Weer Ohoinam, melewati desa Watsin, Elralang, Bombai, dan Soinrat, kemudian beralih menuju bagian timur pulau kei besar dengan melewati gunung Daar.
Dari Gunung itu kami menuju ke Desa Fako, di sana jalan mulai hancur, sekalipun pada titik-titik tertentu kami menikmati jalan yang beraspal, ada pula jalan yang sementara proses pengerjaan.
Melewati Desa Fako kami tiba di Desa Reamru, dan menuju ke Desa Yamtimur, sembari menikmati gelombang Darat, yang tak kalah jauh dari Gelombang laut Utara Timur.
Usai melewati Yamtimur, kami dihantam gelombang darat dengan kondisi jalan yang penuh bebatuan, jalan aspal yang berlubang-lubang, terkadang kendaraan roda empat yang di tumpangi harus melewati jalan itu dengan kemiringan 20 sampai 30 derajat.
Adapula para penumpang harus dituntut untuk turun berjalan kaki, sebagai mana melewati ohoi Kilwair dan memasuki tuburngil dengan jalan yang terjal, bukan hiasan aspal yang di lalui ban roda empat itu, melainkan batu kali, yang licin, harus mengantar sopir handal dengan beribu pengalaman dan kami para penumpang yang ada didalam kendaraan itu.
Usai melewati Tuburngil, kami harus melalui pingiran kampung ohoiwirin dengan jalan kenangan yang menghantar kami menuju Jembatan Hollay. Disana kami bersiap untuk diantar menaiki tanjakan yang penuh dengan tantangan bagi pengemudi baru, namun tidak bagi para sopir handal yang sudah berulang kali melewati jalan itu.
Kendaraan itu sempat terhenti di tengah jalan, beberpa penumpang harus turun dan berjalan kaki, dari bawah sampai di atas kampung, hembusan angin dari laut utara timur, tidak mampu menembus kulit dan daging dalam diri, karena harus melewati tanjakan dengan keringat yang bercucuran di malam itu.
Kendaraan roda empat dan penumpang yang ada sembari menunggu di atas kampung itu, ya kampung Hollay, satu persatu dari beberapa penumpang yang berjalan kaki, sudah sampai di atas, tanpa istirahat sejenak kami pun memulai perjalanan kami, dengan melewati desa Hoko dan dan akhir nya tiba di Desa Hollat kurang lebih pukul 19:00 wit.
Desa dimana tempat kelahiran sang pemimpin rombongan itu, disitulah “tanat sus beb”, tanat kilkilun, tanat will bat batang, “tanat utan soin hoar ki”. *JR17*















