Tual, Soinnews.com– Di balik birunya laut Kepulauan Kei yang menjanjikan kekayaan alam melimpah, tersimpan luka mendalam di hati para pelakunya. Minggu, 28/12/25.
Seorang nelayan tangkap sekaligus petani rumput laut asal Kota Tual mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap kinerja para anggota DPRD Provinsi Maluku, khususnya mereka yang berangkat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 6 (Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Kepulauan Aru).
Dengan guratan wajah yang lelah, pria yang meminta identitasnya dirahasiakan ini berkisah tentang bagaimana rasanya menjadi “anak tiri” di tanah sendiri. Ia mengaku, hingga saat ini, belum ada satu pun batang hidung wakil rakyat yang turun langsung menyentuh pasir pantai tempat mereka menyandarkan hidup.
Absennya “Tangan” Parlemen di Pesisir
”Sangat menyesal. Kami punya wakil rakyat di provinsi, tapi sampai hari ini belum ada yang tampak mengunjungi kami. Jangankan membawa bantuan teknologi atau modal, datang untuk mendengar keluhan kami saja tidak pernah,” ujarnya dengan nada getir.
Menurutnya, sektor rumput laut yang menjadi primadona ekonomi di Tual dan Maluku Tenggara seolah jalan di tempat. Tanpa intervensi kebijakan dari DPRD Provinsi, para petani lokal terus terjebak dalam pola tradisional dengan akses pasar yang terbatas dan harga yang dipermainkan tengkulak.
”Kami ini nelayan tangkap, kami ini petani rumput laut. Usaha kami sulit maju karena tidak ada pendampingan dari pemerintah atau pengawalan politik dari dewan. Kami seperti berjuang sendirian di tengah laut,” lanjutnya.
Dapil 6: Lumbung Suara yang Terlupakan?
Kritik pedas ini menjadi tamparan keras bagi para anggota dewan terpilih dari Dapil 6. Pasalnya, wilayah ini merupakan penyumbang sumber daya perikanan terbesar bagi Maluku, namun kesejahteraan pelakunya justru seringkali terabaikan dalam skema penganggaran provinsi.
Ketidakhadiran wakil rakyat di tengah konstituen pasca-Pemilu menciptakan jurang pemisah yang lebar. Warga merasa hanya dijadikan lumbung suara setiap lima tahun sekali, namun setelah kursi kekuasaan diduduki, aspirasi mereka tenggelam bersama ombak.
Harapan yang Tersisa
Melalui ungkapan ini, warga tersebut berharap agar para anggota DPRD Maluku asal Dapil 6 segera “sadar kamera” dan turun ke lapangan. Masyarakat tidak hanya butuh janji manis di baliho, melainkan aksi nyata berupa: Stabilitas harga rumput laut melalui regulasi daerah.
Bantuan alat tangkap yang modern bagi nelayan kecil.
Pembangunan infrastruktur pengolahan hasil laut di tingkat lokal.
”Jika mereka tetap diam di Ambon tanpa melihat kondisi kami di Tual, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan itu akan hilang selamanya,” tutupnya. MN















